ebook img

Tak ada Nasi LaiN PDF

282 Pages·2013·3.65 MB·Indonesian
by  
Save to my drive
Quick download
Download
Most books are stored in the elastic cloud where traffic is expensive. For this reason, we have a limit on daily download.

Preview Tak ada Nasi LaiN

Tak ada Nasi LaiN Tak ada Nasi LaiN Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Lingkup Hak Cipta Pasal 2 1. Hak cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa me- ngurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ketentuan Pidana Pasal 72: 1. Barang siapa dengan sengaja atau tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling sing- kat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima Miliar rupiah). 2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). ”Kondjuk dhumateng Kandjeng Ibu Radèn Ayu Djembawati Brata” ”Buah kweni buah mempelam Buah kapas bukan tempurung Awak ini semisal balam Mata lepas badan terkurung. Tak Ada Nasi Lain dafTar isi Copyright© 2013, Suparto Brata Pertama kali diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Buku Kompas, Mei 2013 PT Kompas Media Nusantara Jl. Palmerah Selatan 26-28 Jakarta 10270 e-mail: [email protected] KMN: Perancang sampul: Rafael I. SOLO, KOTA FEODAL KERAJAAN SURAKARTA HADININGRAT ...... 1 Hak cipta dilindungi oleh undang-undang Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit II. SOLO, SOLOKOTJI, MENURUT ISTILAH NIPPON ................................. 32 xii + 550 hlm.; 14 cm x 21 cm ISBN: III.SOLO, KOTA BASIS PERJUANGAN BANGSA UNTUK MERDEKA ..... 95 IV. SOLO, KOTA PENDUDUKAN AGRESI TENTARA BELANDA .............. 233 V SOLO, KOTA LEMBAGA HIDUP MERDEKA. .......................................... 297 VI. SOLO, KOTA KELANJUTAN RIWAYAT HIDUP ..................................... 381 VII. SOLO, TAK ADA KOTA LAIN ................................................................. 459 TENTANG PENULIS ...................................................................................... 545 Isi di luar tanggung jawab Percetakan??? vi vii PeNgaNTar B uku Tak Ada Nasi Lain ini saya tulis pada tahun 1958. Pada waktu itu banyak pengarang Indonesia hanya mengarang cerita pendek, dimuat di majalah Kisah, Mimbar Indonesia, dan Warta Sepekan Siasat. Mereka mengasah karya penanya dengan menulis cerita-ceritan ya di majalah-majalah tadi. Saya termasuk belajar menulis di situ. Tidak ada yang menulis cerita bersambung panjang sehingga merupakan roman di situ. Tetapi bimbingan H.B. Yassin dan redaktur lainnya memberikan ulasan-ulasan bagaimana menulis sastra. Termasuk bagaim ana menulis novel. Saya mungkin memang ”born writer”. Mengenal sastra (baca cerita) lewat membaca ”Buku Cerita”. Sejak Sekolah Angk a Loro zaman Belanda (1938-1942) teman-teman sekolah saya sudah pada membacai buku cerita dari perpustakaan sekolah terbitan Balai Pustaka. Sastra dalam buku, ceritanya panjang. Bahkan ada yang berjilid-jilid. Misalnya buku Tiga Orang Panglima Perang karangan Alexandre Dumas (4 jilid), Sepanjang Jalan Raya karangan Jeffery Farnol (3 jilid). Kami murid-murid sekolah di Sragen membaca buku dari perpustakaan itu, selain ada keharusan dari guru kelas kami sejak kelas IV, kami memang sudah tidak ix merasa dipaksakan lagi membaca buku tebal maupun berjilid- Bentuk bukunya kecil-kecil. Karanganku Tak Ada Nasi Lain jilid. Kami (anak desa, sekolah rendah Angka Loro) menikmati ditolak. Alasannya tidak menyemangati hidup zaman itu. benar membaca cerita buku. Buku-buku yang kami baca, kami Selanjutnya naskah buku novel saya yang pertama ini percakapkan waktu istirahat atau bermain di luar kelas. Dan saya, mengalami perubahan-perubahan. Namun, saya ketik lagi saya selain menikmati membaca buku-buku cerita dari sekolah, lalu ketik lagi. Karena isi cerita ini sesuai dengan pengalaman dan sering bera ngan-angan membuat cerita seperti yang saya baca. perasaanku menghadapi zaman itu. Termasuk penggantian ejaan Saya tahu, mungkin hanya saya seorang dari begitu banyak teman- baru. teman sekolah yang gemar membaca buku cerita menjadi Akhirnya novel pertama saya garap tahun 1958 itu terbit secara pengarang (seperti saya), namun mereka itu gemar membaca bersambung di harian Kompas, Januari-Maret 1990. Saya tidak buku. Kami gemar membaca buku karena sejak masuk sekolah tahu, apakah cerita bersambung di Kompas yang lain mendapat kelas I sampai tamat kelas V, pelajaran utama di sekolah adalah sambutan dari para pembaca cerita sambung, tapi Tak Ada Nasi membaca buk u. Gemar membaca buku tidak tiba-tiba gemar Lain banyak tanggapan, terutama dari warga Solo. Tanggapan membaca buku, tidak kami dapatkan dari orangtua di rumah (di yang merasa seperti itulah perasaan orang di Solo waktu itu. Sragen 1938-1942) yang bersekolah anak-anak orang tani, bapak- Namun, saya memang tidak puas. Sebab, dalam hati: sastra itu simboknya buta huruf, tidak mungkin mengajari anaknya gemar buku. Kalau dimuat di koran, ya setelah ceritanya tamat, ceritanya membaca buku. Jadi, gemar memb aca buku, ya karena karena tidak dibaca lagi oleh generasi lanjutan. Dengan ketetapan sastra pengajaran di sekolah yang utama adalah membaca buku. itu buku, setelah penulisan novel pertama gagal, tahun-tahun Sejak semula dari pembelajaran di Sekolah Angka Loro punya selanjutnya saya mengarang dan menulis cerita panjang terus kegembiraan membaca buku, maka ketika saya selain terus gemar yang diterbitkan jadi buku. Telah ratusan novel saya diterbitkan membaca majalah yang memuat cerita pendek, dan saya juga ikut- jadi buku. Dan sampai sekarang pun, menulis cerita untuk buku ikut menulis cerita pendek di situ, hati tetap ingin menulis cerita belum pupus di lentera hatiku. Meskipun penulisan cerita pendek panjang, cerita yang diterbitkan jadi buku. Maka, saya pun menulis (dan dimuat di koran) sudah saya hentikan. cerita panjang untuk diterbitkan jadi buku. Meskipun para Semoga penerbitan Tak Ada Nasi Lain jadi buku ini tidak pembaca dan penulis majalah sastra waktu itu asyik menulis cerita menge cewakan pembaca, sebaliknya memicu samangat para pendek-pendek yang langsung dimuat di majalah, langsung puas pembaca dan penulis muda bergairah menerbitkan buku. Harus karena cerita pendeknya dimuat, dan penerbit buku juga masih ada keberanian. Mungkin usaha 99 kali gagal, jangan menyerah, sangat jarang, saya tetap ingin memenuhi kegelisahan saya menulis karena yang berhasil pada usaha yang ke-100.  cerita panjang alias novel. Karena saya kenal membaca cerita itu dari buku, jadi saya akan berpuas diri bahwa sastra itu buku. Saya Jakarta, Maret 2013 pun mulai menulis ”Tak Ada Nasi Lain”. Meskipun tidak tahu di mana cerita panjang tadi diterbitkan jadi buku, saya tetap menulis cerita ini. Tentu saja setelah selesai cerita panjangku, saya kirimkan ke penerbit buku. Waktu itu satu-satunya penerbit buku yang mau menerbitkan cerita (sastra), Penerbit Pembangunan, yang telah menerbitkan buku kumpulan cerita pendek Trisno Juwono. I sOLO, kOTa feOdaL keraJaaN sUrakarTa HadiNiNgraT I A tak tahu mulanya. Ia tak tahu asalnya. Bahkan yang diingat sekarang pun tidak lengkap benar. Tiba-tiba saja dia ada dan ia tidak bersusah payah memikirkan dari mana asalnya. Menerima saja kehadirannya. Yang paling diingat dari awal kehadirannya di dunia ini warna biru. Warna biru yang terdapat pada jendela bus. Yaitu ketika ibunya berkata, ”bus yang bagian jendelanya bercat biru, itulah bus Adam. Kita naik bus itu karena biayanya murah.” Lalu, ia ingat naik bus itu. Ia kemudian bisa ingat biasa naik bus. Ibunya mengajak dia tiap kali pergi ke Solo naik bus dan memilih bus Adam. Itu sering kali dikerjakan. Ia tak ingat berapa kali dalam bus ia selalu 1 dipangku ibunya. Ibunya berbau harum, ia senang mencium-cium diharapkan akan terbang, tetapi tidak juga terbang. Maka, bau itu. Ia juga ingat, namanya Saptono. Sejak saat itu ia ingat tangannya mencari sebatang ranting kayu lalu ditusukkan ke namanya Saptono. Selain warna biru, warna lain yang diingat dalam sangkar, mengganggu burung kesay angannya biar terbang warna bendera ’gula-kelapa’. Bendera yang dilihat ketika Saptono atau berpindah tempat. Dan seluruh penghuni sangkar itu kecil dibimbing ibunya berjalan masuk ke pintu gerbang rumah beterbangan kacau-balau oleh ranting yang nakal itu. gadang Istana Surengkusuman. Baru akhir-akhirnya saja ia tahu Sekali waktu perbuatannya ini diketahui oleh yang punya pintu gerbang itu pintu gerbang rumah gadang Istana Sureng- burung. kusuman. Bendera itu berkibar mengagumkan di puncak tiang ”Hei siapa, jangan ditakuti burung itu!” yang tinggi di depan pintu gerbang, di dekat pohon tanjung besar Ia terkejut oleh gertak tadi. Ia takut oleh belalak mata orang yang tumbuh sangat dekat dengan tembok benteng. ”Bendera besar yang berkumis lebat. Tidak pernah ia memperoleh perlakuan ’gula-kelapa’ itu milik orang Jawa,” ibunya menerangkan ke- keras seperti itu. Lari menangis mencari ibunya, mencari per- kaguman yang dipandangi Saptono. Hanya itu. Yang lain-lain lindungan. Rasanya hanya ibunyalah satu-satunya yang mampu tidak diingatnya. melindunginya, yang dikenalnya. Ia merasa dimusuhi orang dan dirinya amat rapuh. Tetapi, ibunya tidak kedapatan di rumah itu.  Tiba-tiba saja dia merasa bahwa sudah lama berpisah dengan ibunya. Merasa terkucil. Lebih-lebih kini ketika ia dimusuhi orang BERANGSUR-ANGSUR ia ingat pula rumah besar di Gajaha n. dan memerlukan perlindungan. Ingatan-ingatan yang menggigit pikirannya. Ia datang bersama Tetapi, ia tidak kapok, kadang-kadang ingin juga mengganggu ibunya dan suara-suara riang menyambut kedatangan mereka. burung yang terlihat malas, lama sekali tidak mau beranjak dari Suara-suara itu datang dari buliknya, yang berperut besar dan tempatnya bertengger. Ia jengkel dengan burung yang malas. Men- penghuni rumah lainnya. Ia lupa siapa benar mereka itu, tapi ingat jemukan. Tetapi, sejak digertak oleh laki-laki pemilik burung itu, ia bahwa sambutan tadi bagi dia dan ibunya. Tiap kali mereka berhati-hati mengganggu burung. Hanya kalau merasa yakin benar datang, ribut-ribut menyambut terdengar, mengelu-elukan. Itulah tidak ada orang melihat, baru ia berani mencari ranting atau lidi yang menyebabkan dia merasa jadi orang asing di rumah besar itu. untuk mengusik burung-burung malas agar bergerak. Ia datang dari tempat lain, rumah besar itu sudah ada dan lengkap Ia nanti ingin pula, burung-burung itu diberi makanan kroto, dengan penghuninya. telur semut ngangrang, yang dijual oleh orang-orang desa. Ada Meskipun perasaan jadi orang asing itu tak pernah lenyap dari seorang desa yang menjadi langganan, selalu menawarkan hatinya sampai ia dewasa, tetapi suasana serta kejadian-kejadian krotonya masih baru yang dia peroleh sendiri dari rumah semut di rumah Gajahan, rumah yang bercat hijau dan kuning itu, ngangrang di pepohonan. Orang desa penjual kroto itu memakai selanjutnya amat biasa kepadanya dan kadang-kadang mesra pakaian compang-camping, mengenakan cadar lusuh, membawa menggugat kenangnya. Terharu untuk dikenang. buluh penjaring sarang semut dan kroto hasil pencariannya Ia ingat yang punya rumah besar itu gemar memelihara ditempatkan pada bakul anyaman bambu, datang tiap hari di burung. Burung-burung tadi ditaruh dalam sangkar kawat amat rumah besar. Dengan begitu pemilik burung itu tidak perlu lagi besar. Beterb angan, bernyanyian berciap, masing-masing dengan mencari-cari kroto ke tempat penjualan makanan burung di pasar bunyinya. Ia suka melihat burung-burung itu, melihat kelakuannya atau tempat lain. Cukup menunggu di rumah. yang aneh. Kadang-kadang ia jemu menunggu seekor burung yang 2 3 Takutnya kepada orang besar yang punya burung juga tak ”Ah, tolol sekali! Meriam di sini letaknya!” kata Dandi dengan pernah lepas dari ingatannya. Tetap mencekam hati sampai kasar serta menunjuk pada sebuah lubang pada tumpukan batu- pikirannya berk embang, berangsur-ansur lengkap dan ingatannya batu. kian jelas. Kemudian ia mengerti, orang yang punya burung itu ”Serdadu-serdadu harus makan. Di mana perempuan-pe- suami buliknya (bulik = tante, adik perempuan dari ibu/bapak; rempuan memasak!” kalau adik laki-laki paklik), yang punya rumah besar di Gajahan ”Hus! Di benteng tidak ada perempuan!” itu. Saptono tercengang. Lalu bagaimana serdadu-serdadu harus Meskipun ibunya sering tidak diketemukan di rumah besar itu, makan kalau tidak ada perempuan. Kata Ibu, perempuanlah yang tetapi kemudian tidak merasa kesepian amat. Seorang anak laki- menanakkan nasi bagi laki-laki. Di rumahnya, di desa, ibunya juga laki, yang ia panggil ”Dimas Dandi,” seringkali menemani dia. Ia yang masak untuk dia. dan Dimas (pangg ilan kepada adik laki-laki, bahasa bangsawan) ”Laki-laki?!” Dandi, menjadi teman sepermainan. Ia tidak banyak berpendapat ”Ya. Serdadu tentu laki-laki!” tentang apa yang mesti dikerjakan. Biasanya Dandi-lah yang Saptono kian tercengang lagi! Laki-laki memasak! Tiba-tiba ia punya akal, punya keinginan. Biasanya Dandi-lah yang memimpin. merasa khawatir, kalau-kalau sekali waktu ia harus memasak. Ia Bukan saja karena Dandi lebih kasar, melainkan juga karena lebih takut. Sebab memasak begitu ruwet, begitu banyak rempah dan tua umurnya serta besar tubuhnya. Dandi adalah anak buliknya bahan peralata n dap ur yang tidak dikenal oleh Saptono. Bagaima- nomor dua, yang punya ukuran badan subur dan jangkung. na nanti cara memadukan segala rempah dan berapa pula Biasanya mereka bermain-main di ruang tengah. Atau di ukurannya hingga akhirnya jadi makanan yang enak. Yang bisa halaman depan di bawah pohon sawo kecik, cari isi sawo atau dimakan! Ia merasa tak mampu mengerjakan pekerjaan yang menggambar di tanah. Batu-batu, ranting kayu, tanah berlubang, rumit itu! merupakan sarana permainan yang mengasyikkan. ”Dapur memang mesti ada,” kata Dandi kemudian. Ia ingat pernah bermain-main dengan mengumpulkan batu- ”Hmm,” jawab Saptono masih berpikir hal memasak juga. batuan. Kata Dimas Dandi, mereka bikin benteng-bentenga n. ”Ambillah batu lagi untuk dapur.” Letaknya di sudut ruang tengah. Dimas Dandi yang menyusun Saptono beranjak pergi untuk menuruti perintah saudara batu-batu jadi benteng. Sambil menyusun itu Dandi menerangkan sepupunya. kepadanya arti dan gunanya batu-batu tadi. Ada meriam, ada ”Ah, kok kecil amat. Yang lebih besar lagi. Sekian!” Dandi rumah penjagaan, dan pagar benteng. memp erlihatkan ukuran batu yang dimaksud dengan tangannya. ”Batu besar itu gardu penjagaan,” kata Dandi. ”Orang yang Saptono kembali dan mencari batu yang lebih besar lagi. Ia masuk ke benteng lewat pintu ini dan akan terlihat oleh orang selalu menurut perintah saudara sepupunya. yang bertugas di gardu penjagaan. Petugas jaga akan menegur ”Mengapa kita membuat benteng?” tanya Saptono. siapa saja yang masuk benteng, sehingga orang yang tidak ber- ”Sebab kita harus perang,” jawab yang ditanya. kepentingan dengan orang di dalam benteng tidak dapat me- ”Mengapa kita harus berperang?” nyelundup masuk. Lebih-lebih mata-mata!” ”Tidak tahu kamu? Orang di dunia ini harus berperang. Kalau ”Kita harus punya meriam,” kata Saptono. kita sudah dewasa kita juga pasti perang. Perang akan menjalar sampai tempat kita ini nanti. Sekarang perang masih jauh! Jauh di negeri seberang sana!” 4 5 Jeng (jeng singkatan dari diajeng, panggilan kepada adik pernah melakukan begitu. Ibunya selalu memberi sesuatu dan peremp uan, bahasa bangsawan) Peni, kakak perempuan Dandi membujuk dia kalau menangis. Tidak pernah mencubitnya. Dan datang. Serenta melihat batu begitu banyak terkumpul di ruang ibunya tempat curaha n kalbu, sekarang tidak ada di rumah itu! tengah, gadis ini pergi melapor kepada ibunya. Dimas Dandi tidak ditemukan di mana-mana. Persetan anak ”Bu, Ibu,” terdengar seru Peni. ”Anu, Bu, anak-anak meng- itu. Anak laki-laki jangkung itu pandai bersembunyi dan tidak usungi batu ke ruang tengah. Wah, kotor!” ragu-ragu menghilang. Dandi yang mestinya ikut menanggung Saptono kurang terlatih firasatnya. Ia tidak lari ketika buliknya beban hukuman itu dengan ejekannya melenyap. Ia lari ketika datang dan marah-marah. Tiba-tiba saja ia harus menerima didengar kakak perempuannya berteriak melapor kepada ibunya. amarah buliknya seorang diri. Dimas Dandi sudah lari. Dandi ”Dandi memang kurangajar!” semua bilang. Tapi orang tidak sudah bersembunyi dan hilang. sanggup menj erakan kenakalannya. Dan selamatlah dia dari Saptono menangis dicubit pahanya. Dicubit buliknya yang menanggung hukuman. berperut besar. Saptono sambil menangis ketika harus membong- Jeng Peni menonton Saptono mengusungi batu keluar dari kar benteng-bentengan ciptaan Dandi, dan membuangi batu ruang tengah. Gadis kecil itu angkuh, cerdik, dan kuasa. Saptono benteng dari ruang tengah. Tidak ada orang yang menolong! Seisi benci sama dia. Tapi juga takut dan menghargai. Gadis tadi sudah rumah tidak ada yang mau menolong! Tidak ada yang merasa bersekolah, tahu tentang sekolah dan banyak berita tentang belas kasihan mendengar tangisnya yang melengking! Yang peraturan yang berlaku di sekolahnya. Saptono kagum. dikenal akrab di dunia ini hanya ibunya, perempuan yang suka ”Di sekolah anak-anak harus bersembahyang. Di sekolah memangku dia di bus. Di manakah ibunya? Oh, tidak ada! Kosong! ujung kuku anak-anak tidak boleh ada hitamnya. Di dalam kelas Dunia ini sepi! Tiba-tiba kenangan dipangku ibunya, ibunya yang kalau guru sedang mengajar, anak-anak harus berdiam diri berbau harum, menjadi sangat mengharukan, dan ingin rasanya ia mendengarkan.” kembali ke kejadian itu. Tapi mana bisa? Biarpun ia menjerit-jerit, Sekolah adalah tempat suci, tempat segalanya teratur. Anak- kejadian hangat itu tidak bisa kembali. anak yang sudah sekolah punya harga lain di hati Saptono. Anak ”Hihihi. Awas kubilang ibu, hihihi,” tangisnya sambil bekerja. yang sudah sekolah seperti baju yang sudah dicuci. Tetapi, ibunya yang diandalkan bakal membalas dendamnya, Yang dibenci pada diri gadis itu adalah jahilnya yang meng- tidak ada. Tidak ada di rumah besar itu. akibatkan Saptono kena hukuman seorang diri. Meskipun di Dan di manakah ayahnya? Ayahnya mungkin bisa melindungi. sekolah nanti hukuman juga diartikan sebagai suatu pengajaran, Dimas Dandi berujar tiap orang pasti punya ayah. Tapi Saptono Saptono pernah mendengar dari Peni, sehingga Saptono bisa tidak. Cacat jiwanya karena pemberitahuan itu. Ternyata dirinya maklum, karena dia pun akan masuk sekolah, tetapi pada waktu tidak lengkap. Tidak punya ayah. Ia tidak sama dengan orang lain. itu ucap Peni, ”Rasai hukuman itu, biar kamu jera, biar kamu tidak Dalam hati Saptono tidak mau menerima perlakuan buliknya nakal lagi!” Ucapan tadi menyakitkan hatinya. Hukuman yang terh adapnya. Ia orang asing di rumah itu. Bulik dan siapa juga tidak akan menjerakan seseorang, melainkan akan menimbulkan yang punya wewenang di rumah itu tidak berhak menyakiti atau dendam kesumat saja. menghukum dia. Dandi memang pasti menerima hukuman kalau Kemudian nanti, kalau segala luka akibat hukuman tadi telah salah. Tapi dia, Saptono, tamu yang datang dari desa, datangnya hilang di hatinya, setelah kehidupan berlangsung terus dan naik bus berlama-lama, tidak boleh kena hukum. Hanya ibunya perasaannya pulih, maka Saptono menemui Dandi sedang yang berhak membentak dia. Atau mencubitnya. Tapi ibunya tak 6 7

Description:
aku tidak mau ditipu secara licik demikian. Dia itu laki-laki tidak .. bertemu Bulik di belakang, Yu Nem melapor kesaksiannya anak- anak yang
See more

The list of books you might like

Most books are stored in the elastic cloud where traffic is expensive. For this reason, we have a limit on daily download.